Mewarnai Foto Jadul

Pada suatu hari, eh, kaya dongeng aja ya mulainya kaya gini…
Pada suatu ketika, gue yang emang paling demen liat foto2 jadul jaman Indonesia belum merdeka terutama daerah Jakarta dan sekitarnya, terkaget2 ngeliat foto jadul item putih itu mendadak ada warnanya. Berkelir!

Laaah, kok isooo? Dan karena penasaran, gue cari lagi dan lagi. Ternyata banyak banget foto2 jadul yang kini berwarna gitu. Warnanya cukup realistis. Eh, emang realistis semua rata2 kok.
Ga sampe ke kaget2 dan terkagum2 aja, gue jadi pengen bisa. Pengen banget bisa. Untuk itu akhirnya gue gabung deh ke grup foto jadul dikelirin begitu yang ada di FB. Tapi di situ ternyata ga ada tutorialnya. Kirain ada. Eeeh, ketemu akhirnya di Yutub. Huehehe… Padahal di mana2 orang kalo nyari tutorial juga buru2 ke Yutub kali, cooy… gue aja yang ga kepikiran.

Continue reading

Sponsored Post Learn from the experts: Create a successful blog with our brand new courseThe WordPress.com Blog

WordPress.com is excited to announce our newest offering: a course just for beginning bloggers where you’ll learn everything you need to know about blogging from the most trusted experts in the industry. We have helped millions of blogs get up and running, we know what works, and we want you to to know everything we know. This course provides all the fundamental skills and inspiration you need to get your blog started, an interactive community forum, and content updated annually.

7 Hours in A Cab – The Bill Issue

Ini adalah tulisan yg gue buat beberapa hari setelah tulisan gue yg judulnya 7 Hours in A Cab itu gue publish di sini. Anyway, it was 4 years ago! Monggo diklik kalo misalnya belum baca atau udah baca tapi agak lupa. Sayangnya, besoknya komputer gue crash. Tepatnya harddisk-nya. Ini tentunya bikin gue panik saat itu. Karena semua data, mulai dari tahun 2001 ada di situ semua. Ada foto2 hasil jepretan gue, video keponakan2 gue saat mereka masih lebih kecil dari sekarang, dan semua2nya. Juga tulisan2 gue baik yg udah dipublikasikan di blog gue, maupun yg masih berupa draft. Termasuk tulisan yg satu ini. Alhamdulillah, ternyata data2nya masih bisa diselamatkan. Meski ga 100%, kata temen gue yg nolong gue nyelametin data2 itu. Dan tulisan inipun termasuk di antaranya yg selamat.
So, anyway, ini adalah lanjutan dari tulisan gue tersebut. Dan keadaannya tentunya keadaan saat itu. Yg sekarang udah lewat. Gue udah ga mengalami lagi hal2 yg akan temen2 baca. Maksudnya yg gue keluhkan atau curhatin di bawah nanti. Hehehe… buat yg mungkin lupa ceritanya dulu gimana sebelum tulisan yg merupakan kelanjutannya ini ada, silakan deh diklik link yg ini: di sini lhoo…
Here we go.

Continue reading

Setelah Setahun Ga Update Blog

Entah ada apa dengan gue dan blog.  Kok sepertinya kita lagi kurang kompak. Dan oleh karena itulah akhirnya blog gue tercinta yg gue maksudkan untuk menjadi tempat gue menumpahkan apa aja, termasuk kuah sayur asem, malah jadi kaya rumah bergaya minimalis yang terabaikan.
Daripada terus merasa berdosa, akhirnya gue putuskan untuk mengisinya sekarang juga. Tapi ga bisa janji (ke diri sendiri), untuk terus meng-update. Karena biasanya kalo janji ama diri sendiri suka ga ditepati. Hahaha… tapi tenang aja, janji ama orang lain Insya Allah selalu ditepati.

Continue reading

Goodbye, Dear Takeshi

Lho, Takeshi siapa? Temen dari Jepang?

 

 

Bukan. Takeshi emang temen, tapi bukan dari Jepang. Dia bahkan bukan manusia. Dia itu kucing.

 
Kucing? Kucing lo? Kucing apa jenisnya? Iya, dia itu kucing gue. Kucing lokal domestik, yang biasa disebut kucing kampung.

 
Eh, wait, lo punya kucing?

 
Hahaha… iya. Beberapa bulan belakangan ini semenjak dua bulan sebelum gue nganggur, gue emang berkutat sama kucing2. Di sekitar gue itu ada tiga ekor kucing yang selalu ada. Gue menikmati memberi mereka makan. Melihat mereka saling bergulat. Kejar2an. Main2 bola. Dan sebagainya. Hmm, ada banyaaak cerita tentang kucing yang gue alami belakangan ini. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, gue mau cerita soal Takeshi.

Continue reading

Pijat, Pijit, Pijet

Anda suka dipijat? Kalo saya sih iya. Hehe… kayanya kesukaan gue dipijat itu emang udah dari kecil. Karena bokap gue emang suka mijitin anak2nya. Apalagi adiknya bokap gue emang ahli mijit. Kalo lagi Lebaran dan ketemu doi, gue secara otomatis langsung minta pijitin.

Selama sekian tahun, gue ga pernah tau kalo ada tempat yang menyediakan jasa pijat. Kalo denger2 yang negatif2 gitu sih sering. Tapi yang beneran pijat tanpa plus yang sebenernya minus itu ga pernah tau. So, kaka gue suatu hari pernah nunjukin tempatnya.

Jadilah gue mulai tahun 2004 dipijat di situ. Refleksi gitu deh. Kayanya di tahun itu cuma itu satu2nya tempat pijat refleksi yang ada di sekitaran rumah gue. Sampe akhirnya di tahun 2014 lalu gue menemukan satu tempat pijat refleksi yang amboooi enaknya. Hahaha…

Tempatnya ga jauh dari tempat pijat refleksi yang selama itu gue datengin. Meski ga rutin, tempat pijat tersebut udah 10 tahun gue kunjungi. Tentu aja gue jadi membanding2kan tempat pijat refleksi yang baru gue temukan itu dengan yang lama. Seperti gue bilang di atas, di sini tuh pijatannya jauh lebih enak. Enak banget. Yang lama? Ga ada seujung kuku.

Continue reading

Sebel Sama Yang Dioperasi Plastik

Kan banyak ya, orang yang dioperasi plastik. Artis2 Korea apalagi. Nah, yang gue ga ngerti, kenapa ada aja orang yang sebel sama mereka yang dioperasi plastik. Emangnya kenapa sih? Apa nyebelinnya dari orang yang mukanya dipermak2?

Dulu, ketika gue masih SMP, gue berkali2 harus dengerin komentar orang2 mengenai Michael Jackson, salah satu orang yang gue kagumi. Tentu saja urusan operasi plastiknya itu. Mereka, orang2 yang ga suka itu,rata2 ga sukanya ya karena hal itu. Operasi plastik.

Continue reading

…So What’s Happened Now, Where Am I Going To…

…So what’s happened now, where am I going to…

Sepenggal lirik dari salah satu lagu yang ada di film Evita, Another Suitcase in Another Hall. Ini dinyanyikan saat Eva Peron baru aja sampe di Buinos Aires, dan ga tau harus ke mana.

Oh, well, ga tau harus ke mana. Mungkin itu juga yang gue sedang alami sekarang ini. Karena seperti dugaan banyak temen2 di kantor, dan juga akhirnya menjadi dugaan gue, kantor gue akan tutup. Bubar.

Gue pernah posting tentang dugaan gue ini di beberapa bulan lalu. Dan sekarang, sudah bukan dugaan lagi. Kantor gue memutuskan untuk berhenti beroperasi. Tepatnya mulai 31 Desember 2015 nanti.

Continue reading

Misteri Kunci Yang Hilang

Ruangan gue di kantor itu berdua sama bos gue. Setiap harinya selalu dikunci saat kita udah balik. Dan kuncinya disimpan di pos satpam. Kalo pagi, setiap baru sampe kantor, gue atau bos gue, tergantung siapa yang sampe duluan, selalu minta kuncinya dulu sama satpam yang sedang bertugas, lalu menandatangani buku log-nya. Nanti saat pulang, kita kembalikan dan menandatangani kembali buku tersebut. Sayangnya, baik gue maupun bos gue sering lupa. Jadi kita kembaliin ke satpamnya langsung tanpa tanda tangan di buku segala. Tapi langsung ke satpam yang saat itu sedang bertugas aja. Tangan ke tangan. Ini sebenernya sangat efektif mengingat udah beberapa kali kunci itu gue bawa pulang. Soalnya kan sang satpam biasanya minta langsung sama gue pas mau keluar kantor, dan gue jadi ga lupa deh. Makanya terhindar dari terbawa pulangnya si kunci.

Continue reading

Day 31: Sendiri #inktober

image

For the last day of Inktober, since it’s also Halloween, I decided to draw this character. One of creepy image of some long-haired woman on white long dress, sitting alone on some worn old chair, having her hair combed.
Some mystical legend of Indonesia.

Happy Halloween, everybody.
And see you next year, Inktober!
Keep drawing, keep sketching! 😀