Alice in Rempongland (End Part)

Previously:
Alice ketemu sama Hatter, Dormouse dan White Rabbit dalam jamuan makan siang. Lalu dapet kabar kalo kampung itu akan digusur dan akan dijadikan mall oleh sang Ratu Merah. Hatter ditangkep sama Ratu karena memberontak. Alice dateng ke istana Ratu untuk membebaskan Hatter. Itu lho yg kemaren di Alice in Rempongland!

 

“Eh, siapa tuh? Setan ya? Ih, lagi ga mood ditakutin setan!” kata Hatter.

“Eh, siyalan lo! Gue cuco’ gini masa dibilang setan!?” kata sang pemilik suara yg akhirnya nongol.

“Heh! Awas lo gue ditongolinnya Boneng lagi! Gue udahan ikutan ini cerita kalo lo begitu lagi!” katanya ke gue. Iye, ke gue, yg nulis cerita ini. Hihihihi…

Dan Chesire the Cat yg cuco itu akhirnya nongol dengan sempurna! Cucooo banget!

Puwas lo?

Ini gue berdialog ama tokoh cerita gini? Oh, well…

“Ya udah deh, cyint. Lo ga usah takut. Gue pinjem aja topi lo ya?” kata sang kucing keren ini ke Hatter sambil mengerlingkan matanya.

“Triiingg..!”

***

Akhirnya Hatter dibawa keluar. Ada banyak orang dan mahluk-mahluk unik penghuni negeri itu yg dateng untuk menyaksikan eksekusi terhadapnya. Ada yg ketakutan tapi penasaran, ada yg emang pengen banget ngeliat, ada juga yg setuju kalo dia dihukum. Entah kenapa.

Suasana ramai sekali. Ratu Merah duduk di kursi dengan tampang sombongnya, ditemani Knave the Heart berdiri di sampingnya. Juga para menteri dan pejabat istana yg punya keunikan lainnya, dibelakangnya. Mereka ada yg berhidung gede, kupingnya gede, giginya gede, sampe yg anunya gede. Wuihh… gedenya itu lho… girang deh pokonya kalo udah kesenggol! Eh, anunya itu bisa apa aja yaaa…

Hatter dibawa ke tengah-tengah arena. Di situ siap menunggu seorang algojo dengan muka yg ditutup pake topeng kain hitam, dan sebuah guillotine. Alat untuk memenggal kepalanya.

Suasana akhirnya sangat tegang saat Hatter sudah dimasukkan ke alat itu. Pisau besar yg menggantung di atasnya siap dilepaskan.

Akhirnya, pisau itu dilepaskan oleh sang algojo. Suasana sangat hening.

“Zrinkkk!!” pisau itu melesat kebawah.

Dan akhirnya kepala Hatter terputus.

Tetapi bukannya menggelinding, kepala bertopi itu melayang.

Ternyata kepala itu bukan kepala Hatter, tapi kepala dengan senyum yg lebar dan gigi yg… maju.

“Triiingg!!” terdengar suara kilauan dari gigi yg mengkilap itu.

“Waaah, ada Boneng!”

“Eh, itu Boneng!”

“Waaah, itu gigi! Mantaab!”

Suara-suara warga yg menyaksikan hal itu terdengar mulai riuh.

“Tuh kaann!! Itu kan harusnya gue! Ok! That’s it! I QUIT!!” Chesire the Cat ngamuk. Ke gue! Hihihihi…

Ok, biarkanlah kucing gendut yg satu itu ngambek yaaa…

***

“Ok, Alice. Sekarang lu maunya apa? Lu mendingan pergi deh dari negeri ini! Ga ada yg butuh lo disini!” kata Sang Ratu di sebuah arena, tanah lapang yg sangat luas.

“Sori ya, Ratu. Gue ga bisa tinggal diem. Lo seenaknya sama warga! Emangnya tanpa warga lo mau jadi apa? Ini besar kan semua gara-gara mereka. Sekarang, setelah besar kaya gini, lo maen usir aja!” kata Alice, yg udah siap dengan kostum perangnya berikut pedang dan perisainya.

“Halah, banyak cingcong lu! Gue ubek-ubek ucus lu! Pasukaaan! Serang diaaaa!!! Off her head!!!” teriak sang Ratu.

Ratusan pasukan yg berkostum merah maju. Tapi Alice ga sendiri. Pasukan-pasukan itu melawan warga yg udah siap sama senjatanya masing-masing. Akhirnya terjadilah pertemuran maha dashyat! Maha inbox!

Tapi ternyata pasukan Ratu Merah kalah. Ada yg mundur, ada yg udah ga tahan lagi, ada yg mau resign aja, ada yg kabur begitu aja, ada yg malah maen mata sama salah satu warga. Sempet-sempetnya.

“Waduuuhh!! Pegimane sih ini pasukan gue!! Udah gue persenjatai, gue kasih kostum yg oke, malah kalah! Ga keren banget!!! Ya udah, gue panggil nih, baby kesayangan gue! Jabberwocky!!!! Turuuunn!!! Lawan ini perempuan!!!” Ratu geram bukan main.

“Grrrrrrrrroooouuugghhh!!!!!!” dari balik bukit yg agak jauh dari tempat mereka bertempur terdengarnya suara menggelegar.

Lalu terlihat sebuah mahluk raksasa, berleher panjang, berkaki empat, dengan kuku-kukunya yg siap mencabik-cabik siapapun yg berani mendekat, bertanduk, dan bersayap terbang mendekati mereka. Para warga kocar-kacir ketakutan. Mahluk itu besar sekali. Mereka takut keinjek kayanya.

Akhirnya mahluk itu mendekat dan langsung menyerang Alice. Alice tentu aja udah siap. Dilawannya mahluk itu.


Alice naik ke punggung Jabberwocky. Tebasan pedang Alice melukai punggung mahluk beringas ini. Tapi dia lantas dibantingnya. Alice berusaha keras melawannya, tapi sepertinya semua jurus, semua usaha ga mendatangkan hasil. Alice terdesak. Kalah gitu deh.

Alice mulai terancam! Mahluk itu mendekat dan akan menginjak-injak Alice.

Tiba-tiba dia teringat seseorang…

Ceritanya flashback nih yaaa…

“You’ve done something wrong in your world. You are here to fix that,” terbayang seseorang itu di kepala Alice. Seseorang atau seekor kali ya, yg doyannya nge-shisha.

“Apa yg gue bikin di dunia gue sampe dibilang salah sama Om Pillar ya?” Alice berpikir sejenak.

“The only one that can help you to fight that creature is the one you’ve been mess with for years. You need them. They can help you. Jabberwocky scares the shit out of them!” katanya sambil ngisep shisha. Tapi kali ini Om Pillar tampak dalam selimut. Selimut kepompong yg sudah semakin penuh menutupi tubuhnya. Mungkin dia mau ngasih liat tentang apa itu persahabatan. Kan katanya bagai kepompong. Krikkrikkrikk…

Ya, jadi si Alice emang sempet ketemuan lagi sama Om Pillar untuk konsultasi. Dan itulah yg dia kasih tau ke Alice.

“Yang selama ini gue resein? Gue ancur-ancurin. Ah, apa ya?” Alice berpikir keras. Sampe sekarang dia belum nemu jawabnya.

Om Pillar terbayang lagi di kepalanya. Lagi ngisep shisha.

“Om itu shisha rasa apaan? Strawberry ya? Atau anggur? Rasa ayam kari atau ayam bawang ada ga? Boleh doong nyobaiiiin…” katanya ke Om Pillar.

“PLAAKK!!” Alice ditampar.

“You are fighting. You’re on a battle now!! For God sake!” teriak Om Pillar

Alice akhirnya mengingat-ingat lagi. Dan bagaikan film yg berputar terbalik, gambaran dikepala Alice berputar cepat. Cepat. Makin cepat! Lebih cepat lagi!

Mulai dari dia menyusup ke istana Ratu Merah, ketemuan dengan Hatter, White Rabbit dan Dormouse, lalu makan siang bersama mereka, lalu ketemu sama si kembar Tweedledum dan Tweedeledee, lalu berada di ruang dengan pintu kecil, lalu lobang di mana dia terjatuh itu, lalu tikus yg dikejar-kejarnya.

“TIKUS! Gue selama ini rese ama tikus!” teriak Alice.

Jabberwocky mengibaskan ekornya. Alice hampir aja kena. Dan dia lantas teriak lantang.
“Dormouuuussse!!! Siniiii!!! Ajak semua temen-temen loooo! Ini mahluk jelek, seraaangg!!”

Dormouse bingung.

“Kok gue?!!” katanya.

“Udah cepeeet!!!” jawab Alice.

“Woooy! Temen-temen sesama tikuuuusss!! Kita bantuin Alice! Cepeeett!!” teriak Dormouse ke temen-temennya.

Ribuan tikus berlari mendekati Alice dan Jabberwocky yg sedang bertempur. Suasana sangat menegangkan. Angin bertiup sangat kencang. Petir menyambar sana-sini. Tikus-tikus itu dengan sangat berani maju terus. Semangat banget deh pokonya.

Dan ngeliat banyak tikus mendekat, Jabberwocky langsung bingung. Dia mendadak mundur. Nafasnya memburu. Ga ada garang-garangnya kaya waktu ngelawan si Alice.

“HUWAAAAAA…. TIKUUUUSSSS!!! TULUUUUNNNGG!!!!” kata mahluk menyeramkan, beringas dan gahar serta garang tadi itu. Dia lari tunggang langgang. Ngibrit, bo!

“Horeeeeeeeeee!!!!” semua bersorak-soray.

Jabberwocky, mahluk yg jadi andalan Sang Ratu Merah itu takut ama tikus!

Sang Ratu jadi bingung. Dia terbengong-bengong dengan mulut menganga ngeliat kejadian itu. Dia ga nyangka piaraan kesayangannya, kebanggaannya, andalannya ngibrit. Gara-gara tikus.

“Hihihi… Ratu sampe mangap gitu tuh!” kata White Rabbit sambil lompat-lompat kegirangan.

Apalagi yg mau sang Ratu andalkan. Dia lantas ngeliat kanan-kiri. Ada Knave the Heart disitu. Dan dia langsung ngedeketin. Mereka berdua ketakutan.

“Kalian berdua, segera pergi dari sini! Negeri ini ga layak ada kalian! Masih untung kalian ga di hukum mati! Cepetan pergi!” kata Hatter, mewakili warga.

Akhirnya kedua orang itu pergi. Jalan kaki. Sang Ratu udah ga punya kekuasaan lagi. Pasukan-pasukannya ga ada yg nurut lagi. Followernya berkurang drastis dari puluhan ribu jadi cuma puluhan orang. Itu juga orang yg dia folbek.

***

“Maafin gue ya, Dormouse. Gue janji, gue ga akan ganggu lo dan temen-temen lo lagi,” kata Alice kepada Dormouse yg berdiri di atas telapak tangannya.

“Enak aja! Lo harus minta maaf langsung sama mereka semua,” jawab Dormouse dengan sambil bertolak pinggang.

“Dengan senang hati, Dormouse! Doakan gue dimaafin ya!” jawab Alice sambil meletakkan tikus itu ke tanah.

“Wahai, tikus-tikus sekalian. Gue mohon maaf banget sama kalian semua. Selama ini gue sangat-sangat jahat sama kalian semua. Selama ini mungkin gue bikin kalian kehilangan keluarga kalian. Maaf banget yaa… Gue, juga atas nama emak gue, mohon maaf banget,” kata Alice sambil memandang begitu banyak tikus yg ada di situ. Tikus-tikus yg telah menyelamatkan nyawanya tadi.

“Ga papa, Alice, lo juga udah bantuin kita ngusir si Ratu Merah,” teriak salah satu dari tikus-tikus itu.

Dan semua menyambut dengan baik. Semua memaafkan Alice. Baik bener ye, ini tikus-tikus. Ckckck… Namanya juga cerita. Coba kalo beneran, kaya disini. Suka maen hakim sendiri. Ih, kejem!

“Gue mau pulang deh, Hatter. Gue kangen emak gue, “ kata Alice menoleh ke Hatter yg sedari tadi berdiri di sampingnya.

“Liat di pedang lo. Ada darah bekas Jabberwocky kan? Lo minum deh. Nanti lo pulang,” kata Hatter.

“Kok lo tau? Kata siapa?” tanya Alice.

“Om Pillar! Hahahaha…” jawab Hatter.

“Iiiihh, benciiii! Kenapa doi ga ngomong sendiri ama gue?” tanya Alice lagi.

“Tau tuh. Emang ulet aki-aki suka gitu. Suka rada aneh. Hihihihi…” kata Hatter cekikikan sambil nari-nari ga jelas dan kepala muter-muter.

Lalu Alice mengambil sisa darah dari pedangnya. Darah itu berwarna biru. Biru-biru glow in the dark gitu. Keren banget deh. Diminumnya darah itu.

***

“Gud morning, anak emak yg paling cakeeepp!” sambut Mak Yuti ke anaknya yg baru aja bangun.
“Morning, Mader..,” jawab sang anak dengan lesu.

“Eh, ini di rumah? Eh, ada emak!” dengan sekejab lesu itu hilang dan sang anak ini melesat bangun dari tempat tidurnya dan mengejar sang ibu yg lagi beberes.

“Emaaaakkk!! Ay mis yuuu!” teriak sang anak sambil meluk emaknya.

“Eeeh, apaan nih? Kenape lu tiba-tiba meluk-meluk? Ya ampun kaya di pelem-pelem!” kata emaknya.

“Lagian lo kenapa tau-tau kangen? Kaya abis pergi kemana aja!” lanjut sang emak.

Sang anak hanya tersenyum dan melanjutkan pelukannya.

“Mak, mulai sekarang kita jangan dagang baso pake daging tikus dong, Mak. Pliss… kesian mereka. Kesian tikus-tikusnya. Kesian juga yang makan. Kita harusnya pake daging sapi aja. Yg normal-normal aja. Ga papa deh harga naikin dikit. Ya, Mak ya… Pliiiss..,” sambil meluk sang anak merengek ke emaknya.

“Aduh darliiing, lu kenapa sih kok tau-tau begini? Kalo ga pake daging tikus trus make daging sapi kan mahal. Ntar baso kita ga ada yg beli,” kata sang emak.

“Adaa! Pasti ada! Yah yah yah! Ntar emak boleh kawin lagi deh!” sang anak memasang senyum paling manisnya.

“Eh, serius lu? Yg bener nih emak boleh kawin lagi? Asiiiiikkk!!! Gitu dooong! Sok-sok takut punya bapak tiri! Emak kan udah lama merindukan kehangatan lelaki! Jadi anak akhirnya ngerti juga lu ya! Muuuuaaahh!!!” diciumnya anak semata wayangnya itu.

“Eeew, Mader… stop it!” kata sang anak sambil nge-rolling eyes.

Dan akhirnya Mak Yuti ga jualan baso pake daging tikus lagi, melainkan pake daging sapi yg doi beli dari pasar. Yg masih bersih. Anti formalin. Sehat. Seger. Halal.

Mak Yuti lantas mengganti nama warungnya menjadi Miss Yuti.

“Yah, biar sekalian dunia tau, kalo gue single! Am bek in de market, yu no!” kata Mak eh, Miss Yuti sambil menjentik-jentikkan jarinya ala Miss J Alexander di ANTM, saat dia ditanya sang anak kenapa gantinya pake Miss bukan Mrs. Hihihihi…

Sayup-sayup terdengar lagu Single Ladies-nya Beyonce yg disetel Miss Yuti di warungnya. Seekor kupu-kupu berwarna hijau datang dan hinggap di tepi jendela di warung mereka ketika sang anak, Alice, sedang berdiri menatap ke luar. Dan dia menoleh ke kupu-kupu itu.

“Hallo, Om Pillar,” katanya sambil tersenyum.

Kupu-kupu itu terbang tinggi dan semakin tinggi meninggalkan Alice.

The end.

6 thoughts on “Alice in Rempongland (End Part)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s