Motivation Gone Bad!

Di sebuah perusahaan, beberapa orang karyawan yang sudah tidak lagi kerasan bekerja ingin segera mengundurkan diri. Kantor tempat mereka bekerja ini dirasa sudah tidak lagi kondusif. Setiap harinya atasan mereka itu marah-marah. Ada saja hal yang membuatnya marah. Suasana meeting, yang selama ini diadakan setiap minggunya yang memang sudah membosankan, berubah menjadi menegangkan. Rasanya seperti di persidangan. Mereka tidak lagi hanya merasa bosan, tapi menjadi takut. Pikiran mereka masing-masing dihantui dengan kesalahan apa lagi yang bisa diangkat minggu ini, apa kata-kata yang akan atasan mereka lontarkan, ‘hukuman’ apa lagi yang akan mereka dapatkan setelah ini. Tidak perlu malu dimaki-maki di depan karyawan lain, karena hal itu sudah menjadi rutinitas mingguan mereka.

Kerasnya sikap atasan mereka belakangan ini dikarenakan profit perusahaan menurun. Oleh sebab itu para karyawan harus digenjot agar lebih menghasilkan. Para karyawan ditekan, bahkan diancam, agar lebih giat lagi dalam bekerja. Dengan begitu atasannya pikir, karyawan jadi termotivasi untuk maju, untuk lebih tertantang dan sebagainya, dan mungkin, berujung dengan naiknya profit

 

 

“Saya begini agar kalian punya keinginan maju! Kalau kalian tidak saya keraskan, maka kalian akan santai! Tidak ada keinginan untuk maju! Hanya mau bersantai-santai saja! Kalian semua tidak akan termotivasi tanpa dikeraskan dulu!” begitu katanya. Hampir setiap minggunya. Hampir setiap harinya.

Belum lagi tudingan buruk atas kinerja mereka sebagai karyawan, tudingan ketidakdisplinan, bahkan tudingan bagaimana mindset mereka, dianggap malas, dituding berbohong, dianggap ini itu yang serba buruk.

Dan tentunya tudingan profit menurun yang seolah karena karyawanlah penyebabnya. Semua tudingan-tudingan ini beliau lakukan yang katanya adalah bagian dari agar karyawan termotivasi.Ini membuat mereka justru tidak lagi bersemangat seperti sebelumnya.

Mereka yang tadinya giat bekerja, berubah jadi sebaliknya. Rasa malas berangkat ke kantor, ingin selalu libur, ingin selalu pulang cepat, dan ingin sekali mengabaikan pekerjaan yang sebenarnya masih menumpuk itu menghinggapi mereka. Motivasi yang atasan mereka selama ini coba tanamkan sepertinya tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Tetapi ya, justru kebalikannya. Semua itu seolah lenyap ditelan bumi. Bahkan berdampak kepada emosi dari masing-masing karyawan yang mudah meluap-luap. Mereka menjadi mudah marah satu sama lain, cenderung sensitif jika menyangkut persoalan dengan pekerjaan.

 

Hmm, sepertinya atasan mereka kurang memperhatikan lebih jeli seperti apa tipe orang-orang yang menjadi karyawannya itu. Apakah mereka adalah orang-orang yang timbul semangatnya ketika dipecut terlebih dahulu? Apakah mereka akan berapi-api ketika disulut dan bukannya malah mati terbakar? Atau memang tebakar, berkobar, tapi bukan semangatnya, melainkan emosinya.

Ada dua jenis tipe orang yang disemangati. Satu, mereka yang bersemangat ketika ditekan. Dua, mereka yang malah sebaliknya.

Sudah jelas, karyawan-karyawan ini bukanlah tipe yang pertama. Tidak ada yang salah dengan ini.  Ini hanya perbedaan dua tipe orang yang berbeda. Mungkin sang atasan pikir dengan begini maka semangat karyawan akan timbul, karena dulu saat masih di posisi sebagai karyawan, beliau timbul semangatnya karena diperlakukan begitu. Karyawan-karyawan sang atasan ini bukan berarti cengeng, dan bukan juga berarti bodoh karena tidak bisa melihat niat baik dari sang atasan.

Sang atasan lupa, bahwa semua orang tidak sama. Tidak bisa kita lantas menyamaratakan dengan kita sendiri. Ini juga bukan berarti orang yang disemangati dengan dikerasi lebih dahulu adalah orang-orang yang lebih hebat daripada mereka yang tidak perlu diperlakukan begitu lantas malah tidak semangat. Mereka hanya punya cara kerja masing-masing.

Ada banyak cara menyemangati orang lain. Ini bukan hanya sebagai atasan kepada karyawan, tapi bisa dari teman kepada temannya, orang tua kepada anak-anaknya, seseorang kepada pasangannya dan lain-lain. Yaitu dengan diperlakukan baik maka semangatnya timbul. Tunjukan bahwa mereka dihargai, berikan mereka cinta, beri mereka pujian atau kata-kata yang positif saat mereka melakukan hal yang bagus, masih banyak lagi yang bisa dilakukan.

Menekan mereka, apalagi mengancam, bukanlah satu-satunya. Anak-anak mungkin bisa saja justru semakin jelek nilai di raport-nya jika terus ditekan dan diancam. Pertemanan tidak lagi asik. Pasangan terancam bubar. Just be wise.

Dan untuk kasus tadi, sebagai atasan sebaiknya melihat ini lebih dekat lagi dan lebih bijak lagi agar cara yang disampaikan menghasilkan sesuai yang diharapkan. Kalau hanya main pukul rata saja, alih-alih semakin kuat, semangat mereka malah justru hilang sama sekali. Apalagi jika karyawan-karyawan itu ternyata adalah mereka yang selama ini sudah melakukan pekerjaan mereka secara baik dan benar, dan tentu saja profesional tanpa perlu dikerasi segala.

Perasaan tidak dihargai, bahkan merasa dianggap jahat dan sebagainya, justru yang kemudian hadir. Dan pada akhirnya, jika hanya satu persatu dari mereka akan permisi, itu  lebih baik. Coba bayangkan jika mereka justru nekad membuat perusahaan makin berantakan?

Yah, boss… bukannya anak buahnya makin keren kerjanya, makin chemungud, malah pada kabur… hihihi… untuk ga diobrak-abrik dulu kantor lo!

 

 

10 thoughts on “Motivation Gone Bad!

  1. anchaanwar says:

    Ish tadi gw sdh komen panjang2 kok ga ke aplot ya?

    Gw cuma mau bilang, jadi atasan juga ga gampang lo jeh. Serba salah, ditekan sama atasannya lagi di bawah kepentok anak buah.

    Cuma mmg atasan yg baik mesti mengenali karakter bawahannya biar ngerti gimana cara memlerlakukan mereka. Kasar, lembut atau bahkan dgn contoh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s