Aarrrgghh…, What A Night!!

what a night

“Kamu ada di Jakarta? Dari kapan kamu ada di Jakarta?” aku antusias mengetahui keberadaannya di Jakarta.

“Udah seminggu. Aku menetap di sini sekarang. Udah ga di Singapore lagi,” jawabnya.

“Aku mau ketemu kamu” kataku.

“Ok, kita ketemu nanti malam. Jam tujuh,” balasnya.

Aku menutup telpon dan meneruskan pekerjaanku yang sempat terhenti beberapa menit.

Hmm, Alvin, mantanku ada di Jakarta. Aku kangen sekali padanya. Sejak kepergiannya setahun lalu ke Singapura, aku sudah tidak tahu lagi kabarnya. Nomor telponnya sudah lenyap dibantu oleh emosiku setahun lalu ketika ia memutuskan untuk tetap mengambil pekerjaannya di sana. Begitu juga dengan semua akses untuk menghubunginya yang lain.

Dan hari ini dia menelponku. Aah, lupakan kejadian setahun lalu. Sekarang saatnya berdamai. Untuk apa masih menyimpan kemarahan padanya?

*****

Pukul enam sore. Saatnya aku berangkat menemuinya. Hmm, seperti apa wajahnya sekarang? Masih seganteng laki-laki yang dulu aku gila-gilai atau tidak ya? Hahaha.. pikiranku melambung kemana-mana.

Segera kuhentikan taksi berwarna putih yang melintas di depanku. Ketika aku masuk, seketika itu juga sebuah aroma tercium. Ah, seberapa mahal sih harga deodorant hingga supir taksi ini malas membelinya? Kuambil parfum dan kusemprotkan keleherku. Aku harap ini bisa merubah aroma taksi ini jadi lebih baik.

Sampailah aku di tempat yang kami tentukan tadi. Hmm, aku benar-benar tak sabar untuk menemuinya! Kira-kira, dia sudah sampai juga belum ya?

“Nih ongkosnya, Mas,” kataku seraya menyerahkan selembar uang berwarna biru muda kepada sang supir.

Oh, God! Supir taksi yang berbau badan itu ganteng!

“Ini kembalinya, Mbak,”

“Mbak?” Dia mengangkat alisnya yang tebal itu.

“Oh, iya, iya.. hehe.. maaf. Oh, iya” Apa yang kukatakan? Aku terkesima dan menatapnya…

Ok, lupakan soal supir taksi ini. Saatnya aku bertemu dengan seorang laki-laki yang sudah menungguku di sana.

Kulangkahkan kakiku yang jenjang ini dengan percaya diri. Hmm, jika ini adalah adegan di film pasti akan ada lagu pengiring yang ceria, up-beat, dan pastinya penuh semangat! Kukibaskan rambutku yang mulai panjang dan kecoklatan ini bagaikan iklan shampoo. Hahaha…

Bruug!!

“Heh, punya mata gak? Jalan sembarangan! Situ gak liat tempat luas begini?” Mood-ku tiba-tiba dirusak oleh seorang laki-laki berjaket denim, berbadan kurus dan bertampang culun. Dia menabrakku.

“Maaf, Mbak… Maaf…,” katanya.

Aku malas berkata-kata lagi. Yang kulakukan hanya melihatnya dengan tatapan marah.
Kulanjutkan langkahku menuju tempat aku dan Alvin akan bertemu.

“Aku ada di Moanria,” katanya ketika kutelpon.

“Oh iya, I’ll be there, right away,” jawabku sambil menutup telpon.

Sesampainya aku di Moanria aku tidak melihatnya. Di mana orang ini? Sebaiknya kutelpon dia lagi.

“Kamu itu duduk di mana sih? Kok aku gak liat?” Tanyaku dengan agak emosi.

“Aku ada di paling pojok. Masa ga keliatan?” Jawabnya dengan tenang.

“Gak ada! Aku udah kesana! Kamu keluar dulu deh!” tidak bisa kutahan emosiku. Aku juga tidak mengerti kenapa.

Dia tidak juga keluar. Ah, mengapa dia jadi setolol ini sih? Apa susahnya keluar sebentar untuk menjemputku!?

Telponku berdering lagi.

“Kamu ada di Moanria lantai berapa sih?”

“Lantai satu”

“Aku dilantai empat, Non,” Ia terkekeh.

Aku tersenyum kesal. Sial! Justru aku yang tolol!

Ok, aku sudah cukup sial dengan ditubruk orang di depan tangga masuk tadi, sekarang aku tampak dungu dengan marah-marah kepada mantan pacarku yang sudah setahun tidak pernah bertemu denganku dengan alasan kemarahan yang juga sangat-sangat tolol. I hope this is worth it!

*****

“Kamu emangnya gak pernah makan disini ya?” Tanyanya ketika aku sudah mengatur posisi dudukku di depannya.

“Udah deh. Gak usah dibahas,” Jawabku sinis.

Ia terkekeh lagi. Ah, dia masih seganteng dulu dengan rambutnya yang cepak itu. Dan masih tahu cara menghadapiku. Aku memang mudah marah, mudah emosi, dan dia selalu bisa menenangkanku tanpa perlu berkata banyak. Atau aku saja yang terlalu mengaguminya? Ah, tidak tahulah.

Kami bercakap-cakap tentang banyak hal. Dari mulai pekerjaan, sampai ke hal-hal yang sebenarnya buat sebagian orang agak sensitif jika dibicarakan oleh dua orang yang dulunya sepasang kekasih, yaitu tentang mengapa dulu kami putus.

Aku rindu sekali padanya. Aku ingin dipeluknya dan diciumnya seperti dulu. Aku ingin dicumbuinya seperti dulu. Ya, aku ingin sekali. Mungkin, aku ingin kembali padanya.
“Kamu sekarang ama siapa?” tanyaku memberanikan diri.

“Ada” jawabnya singkat.

Damn!

“Aku udah tunangan, dia di Singapore. Orang sini sih. Nanti dia akan kesini. Kami akan menikah disini,” senyumnya mengiringi jawabannya yang tenang tapi miris buatku.

“Kalo kamu?” Kini ia bertanya balik.

“Aku ga sama siapa-siapa. I’m single,” jawabku dengan nada seolah-olah aku biasa saja.

Ah! Kesal! Kesal! Kenapa dia harus sudah tunangan?! Dan mengapa dia masih seganteng dulu? Kenapa dia tidak berubah menjadi jelek?! Ya ampun, aku tetap ingin dipeluknya! Aku tetap ingin diciumnya, dicumbuinya.

Aku ingin bercinta dengannya! Aku harus bercinta dengannya. Ini adalah kesempatanku! Tunangannya jauh di Singapura. Dan aku, ada didepan matanya. I’m too good to miss, anyway! Dan dia tidak perlu kembali padaku. Ah, ya… tidak perlu!

Ini yang aku tidak mengerti dengan diriku sendiri beberapa minggu belakangan ini. Aku merasa seperti sedang berada di penjara, dan ingin bebas. Aku merasa seperti berada di gurun pasir, dan kehausan. Aku merasa bagai orang yang kecanduan obat terlarang, tetapi sedang butuh-butuhnya. Aku sedang menagih, aku sedang sakaw! I really wanna it! And it’s gotta be tonight! Tonight!

Bodohnya aku tadi. Seperti gadis lugu saja yang tidak bisa membedakan mana keinginan fisik semata dan mana perasaan. Aku bukan ingin kembali padanya. Tapi aku hanya menginginkannya untuk ini.

“Lalu sekarang kamu tinggal dimana?” Pertanyaan awal dari tujuanku yang akhirnya sudah kupastikan, terlontar.

“Di apartemenku,” Jawabnya sambil menyulut rokok.

Great! Itu apartemen yang dulu. Dan dia pasti sendirian.

“Aku udah lama gak main ke apartemen kamu. Seperti apa sekarang?” ha ha ha ha…

“Aku harus ketemu dengan bosku malam ini. Selepas itu, kita ke apartemenku,” Jawabnya. Dia mengerti!

“Supaya aku ketemu dengan bosku itu hanya sebentar, kamu harus ikut. Bagaimana?” Hmm, matanya menunjukkan kenakalan.

“Ok,” jawabku seraya memainkan ujung rambutku dengan jariku.

Who cares about that bitch who’s going to marry him? Having sex with my ex is much better than having one night stand with someone I don’t know. Atau ini bisa disebut sebagai one night stand? Mm, who needs a definition anyway? Kalaupun bisa kusebut, ini adalah nostalgia. Yup! This is nostalgia.

Aku menemukan kebebasanku malam ini! Aku akan meneguk air dan menghilangkan kehausanku! No more sakaw! That’s the point! Hahahahahaha…

*****

“Sudah dari tadi, Boss? Oh, iya kenalkan, ini Lisa,” Alvin memperkenalkanku dengan seorang laki-laki sekitar 40 tahunan akhir, berperut buncit dan berkulit gelap yang ia sapa boss ini di lobby sebuah hotel tempat laki-laki ini menginap.

Kami berjabat tangan. Hmm, entah kenapa aku kurang suka dengan laki-laki ini. Ah, siapa peduli. Dalam beberapa jam, aku toh tidak akan kenal dia lagi. Percakapan mereka terus berlanjut dan sesekali aku melihat ke arlojiku. Ah, sudah jam setengah sembilan. Ok, ini masih sore.

Sekitar satu jam kemudian kami masih di sini. Ah, apa ini? Apa sih yang kalian bicarakan? Kenapa tidak naik saja kekamarnya sih orang tua ini!

“Lisa, kamu tau ga dimana café yang isinya banyak cewek-cewek abg-nya?” tanya laki-laki ini yang mengagetkan aku dari kejenuhan menjadi kambing conge’ sedari tadi. I knew it. Sudah kuduga, laki-laki macam apa dia ini.

“Oh, tau. Di Grande Café. Letaknya dipusat Jakarta,” Jawabku ramah.

“Kita ke sana, yuk? Kamu masih mau nemenin kita ‘kan?” tanyanya.

Whoa… kita ke sana? Ini udah setengah sepuluh malam. Mau sampai kapan kita disana? Bagaimana jika pria buncit ini benar-benar bertemu dangan cewek-cewek abg itu? Mau menghabiskan waktu berapa lama lagi? Bagaimana dengan ‘nostalgia’-ku?

“I wanna have sex with you!” Kataku kepada Alvin seolah menegaskan apa yang sejak tadi kami tunggu-tunggu, sambil menatap matanya dalam-dalam, yang juga sambil menahan kekesalanku karena terus-menerus menundanya, ketika si boss itu permisi sebentar ke toilet sebelum kami berangkat ke Grande Café.

“Sttt… tenang. Kita ikutin maunya dulu apa. Kamu tau, dia itu boss aku. Aku harus bikin dia senang,” Jawabnya seraya celingak-celiguk.

“Kamu mau apa nggak?” Nada bicaraku meninggi.

“Ya! I do!” Bisiknya sambil menyolek lututku.

Sang boss telah kembali dari toilet. Ia berjalan mendekati kami dengan sesekali membetulkan posisi celananya yang seolah-olah akan merosot.

“Siap?” tanyanya dengan senyum yang, arrgh… I can’t even believe why I am here.

*****

Kami memilih tempat duduk di luar. Sebenarnya bukan pilihan yang terlalu banyak. Karena Grande Café ternyata lumayan penuh meski bukan saat weekend seperti ini. Ya, begitulah café yang letaknya di pusat kota seperti ini. Café yang cukup sophisticated dan banyak dikunjungi orang. Beberapa kali kulihat diantaranya wajah-wajah terkenal di Indonesia.

Kusulut rokokku, dengan harapan ke-bete-anku akan meluap seiringan dengan asap yang kuhembuskan.

Kulihat lagi arlojiku. Waktu sudah menujukkan pukul sebelas. Teh aroma peppermint tidak terasa nikmat lagi di mulutku. Ah, entah ini karena aku hubung-hubungkan dengan perasaanku yang sedang kesal atau apa. I mean, please… Apa-apaan ini?

“Yang itu tuh. Boleh. Yang baju putih” Boss yang membosankan itu bicara.

“Ajak dia kenalan” Pintanya pada Alvin.

Dan perkenalan itu terjadi. Ada dua perempuan berusia sekitar 18 tahunan, duduk-duduk di dekat tempat kami duduk. Sedari tadi mereka sudah ada di sana. Dan agaknya, si boss ini menunggu suasana agak sepi. Dan ya, sekarang memang sudah agak sepi. Karena ini sudah semakin malam. Sudah hampir jam dua belas. Kamipun akhirnya bergabung dengan mereka. Dan aku… Aku tersangkut disini bersama om-om senang, perempuan-perempuan remaja yang bukannya ada dirumah dan tertidur lelap tetapi malahan nongkrong disini, dan laki-laki yang dulunya adalah pacarku yang ternyata punya prinsip ‘asal bapak senang’!

Aku pikir keputusanku untuk tidak, bahkan untuk sekedar mencoba, kembali padanya melainkan hanya one night stand or whatever atau yang lebih enak kusebut sebagai nostalgia, adalah sangat tepat. Siapa yang mau punya pacar yang suka menjilat seperti itu? Emm, did I just say menjilat? Emm, wow… hehehe.. Well… bukan menjilat yang itu! Ah, tapi kapan? Kenapa semua jadi begini?

Kembali kusulut rokokku. Dan ketika itu juga, kulihat seorang laki-laki berambut model mohawk dan berbadan atletis sedang memandangiku. Hmm, he’s cute!

Aku belum yakin apa laki-laki ini benar-benar memandangku atau bukan. Perlahan tapi pasti aku menoleh kearah belakangku untuk meyakinkan bahwa akulah yang dia pandangi. Tidak ada seorangpun disana. Aku mencoba tetap tenang dan anggun. Hmm, jika memang aku tidak jadi merasakan kebebasan dan mendapatkan obat penawar sakaw-ku malam ini bersama laki-laki yang sedari tadi sore aku harapkan, maka laki-laki yang sedang duduk disana dan memandangku itulah orangnya. Ya, dia lebih cute dari Alvin. Hahahaha…

Aku memandangnya kini. Siapa yang takut dipandangi seperti itu? Kau jual, aku beli! Hahahaha… Dan ya, kini kami saling memandang! Saling menatap! Ini kesempatan emas. Tatapanku memang jitu! Aku berhasil!

Sambil sesekali menatapnya, aku lalu berdiri dan berjalan menuju toilet. Dengan sedikit gerakan menggoda, aku melangkah. Aku yakin, dia pasti membuntutiku. Dan jika nantinya di depan toilet itu kami bertemu, kami akan berkenalan, bertukar nomor telpon, lalu mengatur pertemuan untuk bertemu lagi. Dia bisa saja justru ingin menjadi pacarku. Atau kalaupun tidak begitu, paling tidak one night stand yang aku ingin bisa terlaksana! Oh, beri aku penawarmu, wahai ksatria!

Aku sudah berada di depan pintu toilet wanita setelah aku masuk sebentar untuk sedikit touch-up. Sedangkan pintu toilet pria ada didepanku. Tapi di mana laki-laki tadi, ya? Kenapa dia tidak ada disini? Ok, beberapa menit lagi. Mungkin dia di dalam toilet.

Beberapa menit kemudian, laki-laki itu datang dari arah luar menuju pintu toilet pria. Dia tidak melihat kearahku. Dia tidak melihatku. Dia tidak menatapku!! Arrrgghh!!! Dia datang dan masuk ketoilet begitu saja. Dia benar-benar ke toilet hanya untuk urusannya ditoilet! Apa iniiiiii?!!

Great! This is so great! Fabulous! Magnificent! Excellent! Aku hanya buang waktu! He doesn’t want me! Aku cuma ge’er! Sialaaannn!!!

Dengan langkah yang tidak lagi kuanggun-anggunkan apalagi aku buat menggoda sama sekali, aku kembali ke meja tempat para laki-laki yang tadi bersamaku dan cewek-cewek abg itu berkumpul. Aku duduk dan langsung berbisik kesalah satu dari cewek abg itu.

“You know what? There was a guy. I thought he was staring at me. But I finally found out that he wasn’t!”

“Oh really? That’s bad!” Katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Yang mana orangnya?” Tanyanya.

“That one” Jawabku sambil menunjuk kearahnya dengan mataku ketika ia sedang berjalan kembali kemejanya.

“I can get it. Lo diem aja deh, Mbak” katanya.

“Hey, hey, hey… jangan…” Aku berusaha mencegahnya.

Dan yang selanjutnya terjadi adalah, cewek abg ini justru mendekati laki-laki itu. Tentunya aku terheran-heran dengan apa yang akan ia lakukan. Dalam sekilas saja, ia sudah mendapatkan nomor telpon laki-laki sialan tapi sayangnya cute itu, lalu memberikannya kepadaku.

I can’t believe this! Aku dikalahkan oleh perempuan yang umurnya sepuluh tahun lebih muda dariku! Di mana pesonaku? Di mana!? Apakah aku sudah setidakmenarik itu? Akhirnya aku duduk terdiam, dan kembali menyulut rokok. Aku menghargai apa yang cewek abg itu lakukan untukku, tapi… Ah!

Aku harus pulang. Malam ini begitu kacau! Dan barusan saja aku dengar om-om senang ini sedang mengajak cewek-cewek abg ini untuk menemaninya ke hotel.

Aku berdiri dan berpamitan. Alvin hanya menatapku heran.

“I’d rather go home, Vin. Aku cape. Besok aku harus kekantor. Ini bukan weekend. And just forget it” kataku padanya.

Dia menawarkanku mencari taksi, dan meminta maaf karena tidak bisa begitu saja pergi dikarenakan boss-nya itu. Aku tidak peduli. Cukup sudah malam yang aneh ini.

Taksi berwarna putih itu berhenti di depanku setelah kuhentikan. Aku masuk kedalam. Dan seperti sore tadi, ada aroma tercium. Aroma yang sama. Ada apa dengan taksi-taksi? Kenapa mereka tidak menggunakan pengharum sih?

“Mau kemana, Mbak?” tanya sang supir sambil menoleh kearahku.

Hey! Ini kan supir taksi yang tadi!

“Hmm, Mas, Mas, saya duduk didepan aja deh,” kataku setelah beberapa menit berlalu aku belum menjawab pertanyaannya.

Ia menghentikan taksinya dan aku pindah ke kursi depan. Jika Alvin tidak bisa menjadi sang penawar sakaw-ku, dan laki-laki yang tadi di Grande Café tidak bisa menjadi sang ksatriaku malam ini, maka supir taksi yang ganteng inilah sang ksatria penawar sakaw-ku. Yup! He’s the one!

“Tadi saya naik taksi ini lho, Mas” Kataku basa-basi memulai percakapan.

“Oh iya. Saya inget kok, Mbak” Jawabnya ramah. Dia ingat aku rupanya.

Dan ya, tentunya aku mulai menggodanya setelah percakapan semakin banyak. Aku mulai dengan menyentuh sedikit lengannya yang berbulu itu. Lengan yang terlihat kekar saat sedang mencengkram setir. Lalu berlanjut dengan terang-terangan memegang bisepnya. Dan menjalar daerah kepahanya. Senyumku kubuat semanis dan senakal mungkin. Aku perempuan dewasa, aku tahu apa yang aku mau.

Hmm, entah kenapa bau badannya justru menambah keseksiannya. It just feels so dirty! Owh, so dirty..!

Di jalan yang sepi, taksipun berjalan melambat dan mulai menepi. Tiba-tiba ia menghentikan taksinya. This is it. In a car? A cab? Why not?!

“Maaf, Mbak. Jangan,” Katanya.

Aku melotot kaget. Aku sama sekali tidak menyangka. Ia sepertinya menikmatinya tadi. Tapi ia menolakku?

“Jangan?” Aku menyadari bahwa mulutku menganga keheranan. Suasana menjadi begitu sepi. Keheningan yang mengerikan.

“Maaf, Mbak. Saya antar Mbak sampai tujuan,” Katanya dengan lembut dan sopan.

Taksi kembali melaju. Aku duduk terdiam sambil memandang kearah jendela dengan rasa malu yang luar biasa. Sampailah aku didepan rumahku. Aku meminta maaf sekali lagi kepadanya dengan suara tertahan. Kucari dompetku untuk mengambil uang. Hey, mana dompetku?

“Lho, lho? Ga ada? Dompet saya mana, ya?” tanyaku panik.

Ya, ampun dompetku tidak adaaaa… kemana dompetku?

Aku terus mengorek-ngorek, mengaduk-aduk isi tasku. Aku tidak menemukannya.

“Saya ambil uang di dalam ya, Mas. Saya juga gak tau dompet saya dimana,” Kataku.

Aku langsung berlari masuk ke dalam rumah mengambil uang yang ada dan kembali keluar. Inilah untungnya tinggal sendirian. Tidak ada yang harus terganggu jika aku pulang larut malam seperti ini. Ongkos taksi sudah kubayar, dan aku membayarnya sambil tergugup kutatap wajah sang supir taksi yang tampan dan baik itu. Ah, mengapa jadi begini…

Dan kini, aku sendirian di rumah dan mulai memikirkan kartu kreditku, kartu ATM-ku, KTP, dan lain sebagainya. Semua harus harus segera diurus. Aku tidak tahu tepatnya kapan dompetku menghilang. Aku tidak mengeluarkan dompetku kecuali untuk bayar ongkos taksi tadi sore, karena semua bill makan dan minum sedari tadi bukan aku yang membayar.

Hey, bayar ongkos taksi tadi sore? Itu kan saat aku tadi… Oh, bagus! Keren! Hebat! Orang kurus yang bertampang culun dan berjaket denim itu! Oh, sialan! Dia menubrukku tadi dan dompet itu belum aku masukkan kedalam tas seusai aku membayar ongkos taksi. Dompet itu terlepas dari tanganku!

Aku duduk di pinggir ranjangku. Aku tak sanggup menahan air mata ini jatuh. Aku tahu aku tak seharusnya menangis. Oh… ada apa ini? Kenapa aku begitu sial?

Dari mulai ingin bertemu dengan Alvin yang mengharuskanku berputar-putar dahulu karena salah lantai, lalu menjadi kambing conge’, terus menyaksikan om-om senang yang genit, tidak ketinggalan, menjadi perempuan yang ge’er dan dikalahkan begitu saja oleh seorang cewek abg, ditambah kejadian memalukan di taksi dan sekarang aku baru sadar dompetku dicuri orang. Dan seks? Ya ampun, binal sekali aku…

Kubaringkan tubuhku di atas ranjangku. Beberapa menit kemudian aku duduk, dan aku berteriak…

“AAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRGGGGGGHHHHHHHHHH!!”

Cerita pendek ini gw tulis di tahun 2009. Sekarang gw posting aja di sini.😀

7 thoughts on “Aarrrgghh…, What A Night!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s